Saya dan suami menikah dan dikaruniai 2 orang anak, 1 anak laki-laki
dan 1 anak perempuan. Saya merasa kebahagiaan kami lengkap sudah.
Walaupun suami saya hanya bekerja sebagai buruh bangunan dan saya harus
ikut kerja membantu meringankan beban biaya rumah tangga, tapi saya
merasa sudah cukup, karena saya mencintainya.

Kelahiran anak kami membawa rezeki bagi suami saya. Awalnya ia hanya
menjadi seorang buruh bangunan kemudian menjadi seorang pemborong.
Setahun bisa berpenghasilan 200 juta. Saya pun tidak perlu bekerja lagi
dan fokus menjadi ibu rumah tangga mengurus kedua putra-putri kami.
Tapi, semenjak suami saya mulai memiliki uang lebih, ia pun mencari
wanita lain di luar sana. Saya sangat terpukul, namun saya hanya bisa
diam, pura-pura tidak tahu, karena saya terpikir akan kedua anak saya
yang masih kecil. Saya tidak ingin rumah tangga ini hancur. Demi
anak-anak, saya harus bersabar.
Siapa sangka, suami saya malah membawa selingkuhannya ke rumah dan
meminta saya untuk bercerai! Saya tidak setuju! Bukannya apa, saya hanya
tidak ingin rumah tangga yang kita bangun dengan susah payah ini hancur
berantakan! Dia mau main di luar, mau ngapain, terserah dia! Tapi saya
tetap tidak akan bercerai, demi anak-anak.

Alhasil, tingkahnya makin menjadi. Kadang ia bisa sebulan penuh tidak
pulang ke rumah, juga tidak peduli dengan anak-anak. Tangisan saya
tidak terdengar oleh siapapun, karena saya harus tetap kuat. Saya pun
bekerja paruh waktu sambil jaga anak. Setelah anak saya berangkat
sekolah, saya pergi bekerja dan mengikuti pelatihan.
Setelah 10 tahun berjuang, saya berhasil mengumpulkan uang cukup
banyak dan pengalaman kerja yang melimpah. Saya baru berani mengajukan
cerai. Akhir-akhir ini usahanya merosot. Wanita itu pun meninggalkannya.
Karena ia tidak sanggup membiayai dan membesarkan kedua anak,
pengadilan pun memutuskan anak-anak dua-duanya ikut saya, ibunya.
Ditambah lagi, 10 tahun ini, ia sibuk selingkuh dan main di luar, tidak
peduli dengan anak-anak, membuat mereka sangat dingin dengan ayahnya,
jauh lebih dekat dengan saya.

Sekarang, saya sudah punya pekerjaan tetap. Putri saya yang paling
kecil pun sudah masuk SMP. Anak saya dua-duanya baik dan rajin di
sekolah. Sedangkan mantan suami saya sekarang dia hidup sebatang kara,
anak-anak juga sibuk sekolah tidak peduli sama dia. Dalam hati saya
berpikir, itulah karma. Dialah sendiri yang mengkhianati keluarga ini
dengan tangannya sendiri.
Sumber: Today's Headline