Sering kali orang tua merasa,"Mengapa anak saya kurang mandiri, bagaimana caranya agar ia bisa mandiri seperti anak-anak lainnya?" Memang, dalam kehidupan ini, setiap orang tua pastinya berharap kalau anak-anaknya bisa bertumbuh menjadi anak yang baik, menjadi kebanggaan orang tua, serta memiliki karakter dan sifat yang positif. Namun, sayangnya terkadang orang tua menggunakan cara yang salah dalam mendidik anak, sehingga bukannya membuat anak mandiri, justru malah jadi sebaliknya. Di bawah ini adalah 10 kebiasaan fatal yang suka dilakukan orang tua yang malah berakibat fatal pada proses pembentukan karakter anak:
1. Membantu mereka untuk menjawab sesuatu
Saat membawa anak-anak pergi ke luar dan bertemu dengan orang lain, ketika anaknya,"Dek, namamu siapa?" Kebanyakan orang tua pasti akan dengan spontan membantu menjawab pertanyaan tersebut. Jika orang tua ingin melatih keberanian dan melatih kemampuan komunikasi anak, maka setiap orang tua harus bisa menghentikan kebiasaan buruk ini. Orang tua bisa memberikan petunjuk dan membimbing anak bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, bukannya langsung membantu menjawab pertanyaan.
2. Membantu mereka terlalu banyak
Saat anak menginjak usia 3-5 tahun, kebanyakan mereka ingin mulai bisa melakukan segalanya sendiri. Seperti memakai baju, makan, dan hal-hal kecil lainnya. Namun, kebanyakan orang tua, mungkin karena tidak cukup sabar, atau merasa anak masih 'kecil', sehingga terus membantunya melakukan banyak hal yang akhirnya membuat anak menjadi tidak bisa mengurus dirinya sendiri ketika beranjak dewasa. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya orang tua lebih menahan diri untuk membantu sang anak, agar kelak anak bisa menjadi pribadi yang lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang tua.
3. Memaksa anak untuk mengikuti kemauan orang tua
Kebanyakan orang tua akan menularkan hal-hal yang disukainya pada anak. Contoh, saat orang tua menyukai musik jazz, maka sedari kecil anak akan terus didengarkan musik jazz. Memang, mungkin ada beberapa orang tua yang setelah mengetahui anaknya tidak terlalu tertarik pada musik jazz, akan menghentikan hal tersebut. Namun, pada kenyataannya lebih banyak orang tua yang memaksakan anak untuk menyukai hal yang sama dengannya. Jika terus-menerus mendapat paksaan, anak perlahan-lahan bisa menjadi anak yang suka memberontak. Lebih baik bebaskan anak untuk mencari hal yang ia sukai secara alami. Kalau sampai hal yang disukai benar-benar jauh berbeda, orang tua juga jangan langsung merasa tidak suka dan memarahi sang anak.
4. Selalu ingin tahu jumlah uang yang dimiliki anak

Saat anak mulai diberi uang jajan, ada beberapa orang tua yang suka bertanya pada anaknya,"Duit jajan hari ini sisa berapa?" "Hari ini kamu pake buat jajan apa?" Ada pula orang tua yang suka dengan diam-diam masuk ke kamar anak dan menghitung uang simpanan sang anak. Daripada bertindak sebagai seorang polisi yang hanya bisa menginterogasi, lebih baik ajari anak bagaimana menggunakan uangnya dengan baik. Uang yang telah diberikan pada anak adalah uang anak. Anak mempunyai hak untuk menggunakannya sesuai yang ia mau, dan di sinilah peran orang tua agar anak jangan sampai hanya bisa menghambur-hamburkan uang saja. Dengan sering menanyakan uang kepada anak, justru bisa menghancurkan rasa saling percaya diantara orang tua dan anak.
5. Memutuskan sendiri yang terbaik untuk anak
Bagi orang tua, les piano adalah salah satu kegiatan tambahan yang sangat berguna bagi anak. Selain dapat meningkatkan kemampuan motorik, bisa bermain piano juga jelas merupakan nilai tambah. Namun, apakah les piano ini benar-benar yang diinginkan dari sang anak? Belum tentu. Orang tua harusnya dengan sabar meneliti dengan baik, apa yang sebenarnya menjadi bakat dan yang diinginkan oleh anak. Dengan demikian, maka anak akan bisa lebih mudah mengalami perkembangan.
6. Memamerkan pencapaian anak kepada orang lain
Ada beberapa orang tua yang sangat suka memamerkan anak-anaknya kepada orang lain. Bangga terhadap pencapaian anak sendiri adalah hal baik, tapi jika terlalu berlebihan, sebenarnya orang tua hanya menggunakan anak untuk membanggakan dirinya sendiri. Contohnya, ada orang tua yang suka memamerkan saat anaknya bersekolah di sekolah unggulan, menempuh pendidikan di luar negeri, atau bekerja di sebuah perusahaan ternama. Namun, pernahkan Anda berpikir, saat awalnya berniat untuk memamerkan anak sendiri, ternyata lawan bicara mempunyai anak yang memiliki pencapaian lebih besar. Hal ini justru bisa menimbulkan pukulan bagi psikologis anak dan membuatnya menjadi merasa begitu tertekan.
7. Membantu mereka memutuskan sesuatu

Dimulai dari hal kecil, seperti pertanyaan,"Hadiah apa yang kamu mau?" Kebanyakan orang tua akan langsung mengatakan barang atau hal yang lebih baik dijadikan sebagai hadiah, seperti sepatu, baju, atau barang lainnya yang dirasa bisa lebih berguna dan bertahan lama. Memang, kebanyakan anak pastinya akan memilih barang-barang seperti mainan, permen, coklat, atau hal tidak berguna lainnya. Namun, perlu diingat bahwa itu adalah hak anak untuk memutuskan apa yang dia inginkan. Orang tua sedari kecil harus bisa melatih anak agar bisa memilih, memutuskan sesuatu, dan menerima risiko akan keputusan yang dibuatnya. Dengan demikian, ketika dewasa nanti, anak akan menjadi pribadi yang lebih mandiri.
8. Terlalu ikut campur dalam urusan pribadi anak
Saat anak mulai beranjak remaja, ini merupakan masa-masa yang paling menantang bagi setiap orang tua. Apalagi, jika anak sudah mulai bisa merasa tertarik pada lawan jenis dan mulai dekat dengan seseorang.  Ketika menyadari bahwa anak mulai jatuh cinta, orang tua biasanya langsung bertanya,"Siapa orang itu?" Pertanyaan seperti ini justru akan membuat anak merasa kalau kehidupan pribadinya telah diganggu, dan membuatnya merasa begitu tidak nyaman. Sebagai orang tua harus tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan anak, agar anak bisa dengan sendirinya menceritakan hal tersebut pada orang tua.

Sekali lagi, orang tua jangan terlalu bertindak layaknya polisi, melainkan berikan anak sedikit ruang untuk kehidupan pribadinya. Bisa saja anak juga tidak akan menceritakan secara detail. Menghadapi hal ini, orang tua juga jangan memaksa anak untuk menceritakan semuanya dan terus-terus bertanya, apalagi sampai diam-diam melihat isi handphone mereka.

Anak remaja juga akan lebih menghargai kepercayaan yang diberikan orang tua, jadi biarkan mereka mempunyai kehidupan pribadi sendiri, selagi kegiatan itu positif. Selain itu, orang tua juga jangan lupa untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.


Sumber: Brightside