Tidak peduli di negara mana, tekanan akademik setiap siswa semakin tahun semakin besar. Banyak siswa dituntut menjadi pandai dan juara, tanpa tahu latar belakang dan kemampuan masing-masing pribadi. Oleh sebab itu tak sedikit kita melihat anak muda mati bunuh diri akibat stres belajar di sekolah.
Akhir-akhir ini di Korea Selatan, ada sebuah acara televisi yang sengaja membuat sosial eksperimen tentang seorang siswi yang stres akibat pelajaran di sekolahnya. Dari situlah kita bisa melihat, bagaimana respon orang-orang di sekelilingnya

Video pendek ini berjudul 100 hari sebelum Ujian, ada seorang siswi duduk di bawah pohon sambil menangis minta pelukan dari orang-orang.
“Tolong peluk aku, aku stres belajar. Aku sudah SMA 3, tak sanggup lagi belajar menghadapi ujian” tangisnya

Orang pertama yang meresponi anak SMA itu adalah seorang mahasiswi yang lagi duduk membaca buku sambil mengenakan headset. Saat siswi SMA itu meminta pelukkan pun, ia dengan tulus memeluk. Lalu tak lama ia pergi membelikan minum, dan kembali untuk menghiburnya.

“Ayo minum dulu, nanti saya akan peluk dan hibur kamu” ujar mahasiswi itu

Orang kedua adalah seorang wanita berambut pendek yang sedang membaca buku. Melihat anak SMA itu menangis, hal yang ia lakukan setelah memeluknya adalah mengajak ia makan.
“Ayo kamu jangan nangis, sini makan dulu sama kakak yaa”

“Semua orang mengalami kesusahan yang sama. Tapi yang kita butuhkan adalah usaha dan kerja keras. Kamu pasti bisa melewatinya” ujar perempuan berkacamata
“Anak saya juga SMA 3, dia juga lelah. Tapi kalian harus berjuang demi masa depan kalian. Kami sebagai orangtua pasti mendukung kalian” peluk sang ibu

Dari sosial eksperimen ini mengajarkan kepada kita bahwa di dunia ini masih banyak orang yang peduli terhadap sesama. Walaupun orang itu tidak dikenal, tapi mereka masih mau memberikan pelukan hangat dan memberikan kata-kata semangat bagi siswi SMA 3 itu.



Selain itu tujuan lainnya adalah menunjukkan bahwa tekanan yang dialami murid-murid sekolah jauh lebih besar dari yang kita pikirkan. Makanya banyak siswa siswi memiliki kecenderungan depresi di masa mudanya. Oleh sebab itu, kita sebagai orangtua harus sering memperhatikan dan menyemangati mereka, bukan hanya sekedar menuntut prestasi dan juara.

Sumber: Mhgoodtimes