Andrew Emery (9) asal South Carolina, Amerika Serikat, rela berjualan
demi membantu kesembuhan adik bayinya yang mengidap penyakit Krabbe.
Yaitu sebuah penyakit langka yang menyerang saraf yang kerap dapat
mematikan.
Ia berjualan es limun dan kaus sejak Sabtu (26/5/2018) lalu dan
menghasilkan lebih dari 6 ribu dolar AS atau setara dengan 83 juta
rupiah hanya dalam waktu dua jam. Nantinya uang ini akan ia berikan
kepada orang tuanya untuk membantu kekurangan biaya pengobatan Dylan, si
adik bayi.
Memakai kaus biru bertuliskan #TeamDylan, ia dan kawan-kawannya
menggunakan truk dealer sebagai lokasi berjualan mereka di Greenwood.
Selain berjualan, ia juga membuka laman donasi online bagi adiknya
tersebut.
"Aku akan menggunakannya untuk membayar resep dokter dan
lain-lainnya, dan membelikannya boneka teddy bear juga. Aku cuma ingin
membantu Dylan. Dia adik laki-laki kesayanganku," tutur Dilan, dikutip
dari FoxNews.
Kedua orang tuanya sedang berada di rumah sakit untuk pengobatan.
Sang ibu, Melissa, meng-update kondisi terbaru dari anak bungsunya ke
laman Facebook yang ia buat khusus untuknya, bernama TEAM DYLAN.

"Matt dan aku ingin berterima kasih kepada SEMUANYA terhadap dukungan
yang kami terima saat kami memulai perjalanan ini. Semua telepon, SMS,
doa-doa terus mengalir dan jumlahnya tak terhingga. Kami sangat
menghargainya!! Kami mohon untuk terus dukung kami karena kami
menggenggamnya erat satu persatu agar kami mampu terus berjuang,
tulisnya di laman tersebut, minggu lalu.
Terkait apa yang dilakukan oleh Andrew, Melissa menyebutkan hal
tersebut merupakan bentuk rasa sayang darinya untuk Dylan. Bahkan saat
ia diberitahu akan mempunyai adik laki-laki, Andrew sangat gembira.

"Agak sulit untuk menjelaskan kepada anak berusia 9 tahun tentang apa
yang terjadi. Sejak ia tahu dia akan menjadi seorang kakak, ia sangat
menyukainya. Tiap hari dia adalah anak yang spesial, dan kini siapapun
juga bisa," lanjutnya.
Menurut situs Mayo Clinic, sekitar 100 ribu orang di AS mengidap
penyakit Krabbe ini dan biasanya diidap sejak bayi. Gejala muncul pada
usia 6 bulan dan biasanya berakhir meninggal di usia 2 tahun.

Jika terjangkit pada anak-anak dan orang dewasa, maka bisa
mengakibatkan komplikasi penyakit lain. Belum ada pengobatan bagi
penyakit ini, namun tranplantasi sumsum tulang disinyalir dapat membantu
pada bayi yang ditangani sebelum gejalanya semakin parah.
Andrew kerap melakukan panggilan video untuk menyapa adiknya lewat
telepon genggam. Ia juga punya rencana besaar ketika ia bisa pulang
nanti untuk bertemu adiknya.
"Aku bakalan peluk dia," katanya.
Sumber: detik