Nama Bill Gates, Mark Zuckerberg, atau Jeff Bezoz tentu sering kita
dengar. Sebab, mereka adalah miliarder dunia yang sukses di dunia. Nah,
yang satu ini juga seorang miliarder. Bedanya ia masih berusia tujuh
tahun!
Siapakah dia?
Namanya adalah Ryan dan berasal dari Amerika Serikat (AS). Bocah
laki-laki ini adalah seorang YouTuber yang sangat populer. Dia bahkan
telah mendapatkan 10 juta pelanggan di saluran YouTube-nya, Ryan
ToysReview, sejak memulai kariernya di platform itu dua tahun lalu.
Saluran itu, kata ayah Ryan, adalah cara untuk membagikan informasi
mengenai review mainan untuk anak-anak lainnya, baik di AS maupun di
luar AS.

Ryan memang sangat menyukai mainan, terutama berfokus pada Thomas The
Tank Engine. Lalu tiba-tiba dia meminta izin kedua orangtuanya untuk
memulai salurannya sendiri.
“Suatu hari, dia bertanya kepada saya, ‘Kenapa saya tidak membuat
akun YouTube saja?’. Jadi kami memberi izin tapi tidak memberi informasi
pribadi,” kata ibu Ryan.
“Kemudian, kami membawanya ke toko mainan untuk mendapatkan mainan pertamanya dan Ryan memilih kereta Lego.”
“Itulah awal dia membuat video review mainan.”

Hasil dari pembuatan saluran YouTube itu sangat tidak terduga.
Menurut peringat Forbes, Ryan berada di posisi kedelapan dari 10
YouTuber dengan bayaran tertinggi di tahun ini di seluruh dunia.
Pendapat yang berhasil Ryan dapatkan dalam satu tahun terakhir ini
sekitar 11 juta US Dollar (Rp1,4 triliun). Salah satu video Ryan yang
paling populer adalah ketika dia mereview mainan Pixar Cars pada Juli
2015.

Video itu telah mengumpulkan 801.871.504 view (per artikel ini
dinaikan). Sebagian besar penggemar Ryan adalah anak-anak berusia antara
tiga sampai tujuh tahun dan berasal dari AS, Inggris, dan Filipina.
“Dia sangat suka membuat video.”
“Setiap kali saya mengatakan kepadanya bahwa kita akan syuting, dia akan menjadi sangat bersemangat.”
“Selama dia mencintainya dan itu tidak mengganggu rutinitas kesehariannya, kami berencana untuk terus melanjutkannya.”
“Tapi saat dia tidak bersenang-senang lagi, itulah saatnya berhenti.”

Sumber: Intisari