Suatu hari, seorang istri minta izin sama suaminya untuk berjalan-jalan sebentar sehabis makan malam. Suaminya yang keheranan ini awalnya bertanya, “ngapain jalan-jalan sore, bentar lagi gelap, loh.” Tapi, istrinya tetap pergi juga.
Merasa curiga dengan istrinya, suami mencoba mengikuti istrinya dari belakang. Awalnya suami sudah berprasangka bahwa istrinya bukan jalan-jalan sore, melainkan bertemu orang lain.

Dan benar saja, istrinya bertemu dengan pria lain. Tapi, setelah berbincang sebentar, pria itu pergi. Terlihat istrinya ternyata sedang berjualan baju di pinggir jalan. Melihat ada hal yang tidak beres, suaminya pun menghampiri istrinya dan bertanya, “apa yang kamu lakukan disini?”
Istrinya berkata bahwa baju-baju ini bukan miliknya dan dia sedang membantu orang lain. Tapi, suaminya tahu bahwa istrinya berbohong dan minta penjelasan yang sebenarnya.
Akhirnya, sang istri mengakui bahwa ia berjualan pakaian demi meringankan beban suaminya. Uang hasil jualan ini juga ia pakai untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Ia tidak berkata jujur pada suaminya karena ia takut suaminya marah dan malu melihatnya berjualan.
Namun, ternyata suaminya tidak marah sama sekali. Malahan ia berkata bahwa istrinya seharusnya mendiskusikan hal ini pada dirinya karena sebagai suami ia pasti khawatir jika istrinya berjualan sendirian di pinggir jalan. Akhirnya, mereka pun berjualan bersama.
Memahami istri atau suami tidak dimulai pada saat menikah dan juga tidak saat berpacaran tapi jauh sebelumnya, yaitu dimulai dengan sebuah model yang dilihat kedua pasangan yang akan menikah tersebut dari rumah tangga dimana mereka bertumbuh dan dibesarkan. Perlu diketahui bahwa untuk dapat saling memahami tidak selamanya suami dan istri harus sependapat. Keterbukaan antara suami dan istri merupakan fondasi yang kuat untuk dapat mengerti dan memahami satu dengan yang lainnya.
Sumber: 365yg