Kasih sayang orang tua sepanjang gala, kasih anak sepanjang jalan.
Kalimat ini memang sudah terbukti jutaan tahun lamanya dan sudah dialami
oleh banyak orang.
Mei merasa ada yang tidak enak pada tubuhnya sehingga ia memutuskan
untuk pergi ke dokter. Saat diperiksa ternyata Mei sedang hamil dan
harus istirahat. Dokter menyarankan agar dia cuti dulu dari
pekerjaannya.

Sayangnya sang suami juga tidak bekerja. Dia hanya duduk-duduk di
rumah sambil bersantai-santai. Selama ini dia selalu meminta uang pada
Mei dengan alasan untuk berbisnis, tapi sebenarnya uang itu untuk judi.

Mei yang sudah hamil besar sangat lelah dengan kondisi ini. Keributan
pun terjadi diantara mereka. Untungnya kedua orang tua Mei tinggal
dalam satu rumah yang sama sehingga bisa melerai adu mulut mereka.

Mei menceritakan pada kedua orang tuanya kalau suaminya itu minta
uang untuk berjudi. Mendengar hal ini tentu saja membuat kedua orang tua
Mei jadi marah. Bagaimana mungkin seorang suami minta uang kepada
istrinya yang sedang hamil besar? Sejak menikah sampai sekarang dia juga
tidak pernah bekerja.

Ditambah lagi saat istrinya cek ke dokter, dirinya juga tidak pernah
menemaninya. Selama ini ayah Mei lah yang menafkahi mereka semua. Sang
suami juga tidak terima dengan perkataan ini. Dia sangat marah tapi
tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia kembali membujuk Mei untuk memberinya uang. Masih dengan alasan
yang sama, dia berkata kalau uang ini untuk berbisnis dengan temannya.
Ayah Mei menjadi semakin marah, dia tidak terima putrinya diperlakukan
seperti ini. Akhirnya sang ayah mengusir suami Mei.

Mei menangis tersedu-sedu sambil dipeluk oleh ibunya. Sang ayah
berkata kalau seiring berjalannya waktu Mei akan melupakan suaminya yang
tidak berguna itu.
Akhirnya sebulan sudah setelah kejadian menyakitkan itu terlewati.
Mei kini benar-benar bisa beristirahat di rumah dan dilayani oleh kedua
orang tuanya. Makan dan minum disediakan oleh ibunya. Mencuci baju dan
membersihkan rumah juga dilakukan oleh sang ibu.

Karena Mei sebentar lagi sudah mau melahirkan, sang ayah berpikir
untuk menambah pekerjaan. Dia berpikir kalau akan ada banyak pengeluaran
tambahan seperti popok, pakaian, makanan dan kebutuhan lainnya yang
diperlukan oleh bayi tersebut.

Sang ibu kurang setuju karena ia khawatir sang ayah akan kecapean.
Pagi hingga sore harus bekerja di proyek bangunan dan malam harus
menjadi satpam di tempat lain. Kapan ada waktu untuk tidur?
Tapi sang ayah bersikeras untuk melakukan 2 pekerjaan demi mencukupi
kebutuhan keluarganya. Ia berpesan pada istrinya itu agar merahasiakan
hal ini dari Mei. Ia tidak mau putrinya itu khawatir.
Hari demi hari mereka lalui dengan usaha keras. Hingga pada suatu
hari sang ayah jatuh pingsan saat bekerja. Teman sekerjanya segera
membawanya ke rumah sakit dan memberitahu orang rumah.

Mendapat telepon seperti itu membuat sang ibu seperti tersambar petir
di siang bolong. Dia bergegas lari ke rumah sakit untuk melihat kondisi
suaminya. Saat pergi, ia hanya bilang ada urusan di luar pada Mei.
Lagi-lagi orang tua tidak mau membuat anaknya cemas.
Saat tiba di rumah sakit, dokter dan suster sedang memeriksa kondisi
sang ayah. Tidak lama kemudian, dokter mempersilahkan sang ibu untuk
masuk melihat kondisi suaminya itu. Terdengar sayup-sayup sang ayah
meminta minum pada sang ibu.
Sang ibu segera mengambilkan air minum untuk sang ayah, tapi
sayangnya saat ia kembali melihat sang ayah, sang ayah sudah meninggal.
Rasanya sudah tidak karuan lagi, sang ibu begitu syok dengan kejadian
ini.

Mei juga merasa terpukul dengan kepergian ayahnya. Ia merasa menyesal
dan juga merasa bersalah dengan kejadian-kejadian yang sudah dialami
selama ini. Ia merasa kepergian ayahnya akibat dari tingkah lakuknya
selama ini.

Sang ibu menguatkan Mei yang kini telah menjadi ibu. Dia ingin Mei
juga berjuang untuk anaknya yang kini telah lahir ke dunia. Mei harus
menjadi ibu yang tangguh juga untuk anaknya dan menjadi orang yang
dewasa demi masa depannya.
Sumber : Youtube